Pages

Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 18

Penginapan Mistis Bombastis

Penginapan Suzanna Era '80-an
Bismillah..
Wataw watsap semuanya? Akhirnya bisa menulis lagi. Kemarin-kemarin saya membuka blog hanya untuk menunaikan apa yang sudah diminta oleh Kang Yuday. Membaca postingannya yang sedang mengikuti salah satu kontes di dunia maya ini. Beliau salah satu orang yang suka membantu saya membenahi blog. Memberi pengetahuan lain tentang elemen-elemen blog yang sampai sekarang pun kadang saya masih keblinger untuk memahaminya. Beliau orangnya baik banget klo kita minta bantuan atau sekedar menanyakan beberapa hal mengenai per-blog-an. Beneran deh. Pokoknya top markotop.

Setelah membaca postingan Kang Yuday tentang Voucher Hotel Murah di RajaKamar.com jadi teringat mengenai hal inap menginap waktu saya masih senang berkeliaran antar daerah. Eh, sampai sekarang pun masih senang kok berkeliaran ke beberapa daerah. Program menjelajah Indonesia masih menjadi angan-angan saya setelah lulus kuliah nanti.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang penginapan, entah itu motel, hotel, atau pun penginapan biasa. Saya mempunyai cerita horror mistis bombastis spektakuler dan wedun lah pokoknya. Maaf berlebihan. Hahaha.. Jadi ceritanya begini, awal tahun 2010 kemarin kami satu angkatan beserta dosen mengadakan praktikum ke Kota Banjar. Di sana kami akan mengikuti audiensi bersama Walikota Banjar. Banjar yang saya maksud adalah kota hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis. Mungkin orang Jawa Barat sudah tahu. Seperti biasa kami serombongan setelah berdiskusi ria bersama Bapak Walikota rencananya akan langsung ke tempat istirahat, yaitu penginapan yang ada di Kota Banjar. Antara perempuan dan laki-laki tempat penginapannya terpisah agak jauh. Karena keterbatasan fasilitas yang ada di sana. Maklum, bukan daerah objek wisata yang mempunyai beragam tempat penginapan.

Setelah itu kami pun beranjak ke penginapan masing-masing. Saya saat itu kebetulan menjabat sebagai Koordinator Tim Materi Praktikum Sistem Pemerintahan Desa. Tukang menghubungi dosen, rancang materi praktikum, menghubungi pihak Pemda dan tetek bengek yang berhubungan dengan masalah akademis. Lalu ketua praktikum pun mengamanatkan saya yang berada di bis pertama yang nota bene berisi sebagian besar perempuan. Sang ketua pun berkata, "Ma, perempuan di hotel Mustika ya", "ok siap komandan" saya pun berujar. Asyik, Hotel Mustika cimiiiiwww.. Dalam hati dan pikiran saya terbayang sebuah penginapan yang lumayan lah. Tidak mengharapkan penginapan bintang lima apalagi bintang tujuh (eh itu mah puyer ya, hahaha..). Yang penting nyaman untuk sekedar merabahkan badan yang sudah terombang-ambing jalur Jatinangor-Banjar.

Dan taukah kalian? Apa yang ada dipikiran dan hati saya tersebut salah besar. ZONK!
 
Waktu bus yang kami tumpangi berhenti tepat di depan Hotel Mustika (entah hotel atau motel atau apalah itu namanya, yang pasti bukan bintang 2 sekalipun), kami semua, para mahasiswi sontak berujar pada bapak supir, "Pak, ini tempatnya? Salah mungkin Pak.." dan kami semua agak enggan untuk turun dari bus. Tapi dilihat-lihat di plang nama tempatnya Mustika. Owalaaaaahhhh.. Jadi tempatnya itu klo bisa saya deskripsikan seperti tempat penginapan jaman Suzanna main film horror tentang Bang Bokir itu loh.

Tak ada lobi, tak ada tempat parkir untuk bus. Penjaga penginapannya juga auranya sudah beda. Tampak sering mengamati gerak gerik kami dan menyembunyikan sesuatu serta berkomat kamit entah baca apa. Kaca-kaca dan kayu-kayu kamarnya sudah berdebu, lantainya juga berdebu dan retak-retak, gersang, kamar bawah tidak ada fasilitas AC maupun kipas angin padahal di Banjar itu sangat panas. Tapi di kamar atas tempat saya menginap ada AC tahun Suzanna main film itu. Kamar mandi di kamar saya pun atapnya bolong, air baknya pun kotor, closet tak terurus, pokoknya mencekam. Lampu kamar mandinya pun 5 watt yang kuning itu. Masalah kasur, jangan ditanya, tak terurus sama sekali. Mistis!

Rel Kereta Api di Pinggir Penginapan Mistis
Kamar yang saya tempati kebetulan berdampingan dengan rumah kosong yang sudah separuh bobrok. Kata teman-teman sih di bangunan itu ada tulisan yang lumayan besar bertuliskan "Perjanjian Drakula". Jadi penginapan kami itu berada tepat di tikungan. Klo kata orang-orang disebut sebagai bangunan tusuk sate. Dan berada dekat di bawah jembatan. Tak jauh dari penginapan ini adalah Stasiun Kereta Api di Banjar. Aroma mistisnya sudah tercium oleh beberapa teman yang memang katanya bisa melihat dan merasakan. Tapi karena saya orangnya datar, biasa saja, jadi ga terlalu mengulik hal-hal seperti itu. Yang saya rasakan hanya biasa saja, sebuah tempat yang fasilitas penginapannya seperti kembali ke jaman Suzanna di era '70-an atau 80-an.

Waktu malam menjelang, saya, Dini, dan Leo berada di kamar atas pojok samping rumah kosong itu. Lalu Gie, F, dan Rurry berada di sebelah kamar kami serta langsung berbatasan dengan lorong (gelaaaap banget) tidak merasakan hal-hal aneh. Merasa nyaman-nyaman saja. Tidak ada pikiran aneh-aneh. Bahkan saya sempat terjaga di tepat pukul 12 malam untuk mengambil HP yang sedang di-charge, lalu mendengarkan suara kereta api yang sedang transit di sana. Sampai keesokan harinya kami tidak merasakan apa-apa, malah kami tidur pulas sepulas-pulasnya. Udah dasar tukang tidur mungkin ya, jadi dimana pun itu tempatnya tidur ya tidur.

Tapi, taukah kalian? Saat malam itu ternyata banyak teman perempuan maupun laki-laki (yang sengaja main ke tempat penginapan perempuan) dengan sengaja dan tanpa sengaja memancing para blaemblaem (disensor) keluar menampakkan diri. Ada yang bertemu di bawah jembatan belakang penginapan, ada di antara rel kereta api, ada di jendela kamar atas yang ga boleh kami tempati. Dan ada salah seorang teman yang melihat ada blaemclukcluk di depan kamar saya. Walaaaaahhhhh.. Baru keesokan harinya kami diceritakan oleh mereka tentang kejadian itu. Percaya tidak percaya memang kita harus percaya pada hal-hal ghaib. Tapi jika kita tidak menganggu mereka, ya kita pun tak akan di ganggu kok. Buktinya kami bangun keesokan harinya dengan sumringah dan membuat teman-teman lain keheranan dengan kelakuan kami yang ceria. Hahahahaha.. Meskipun setelah mendengar cerita itu jadi merinding ajojing.

Bagaimana dengan pengalaman kalian?? Oh iya, jangan lupa berkunjung di Voucher Hotel Murah di RajaKamar.com yaaaaaaa.. Pasti pada doyan yang murah-murah kan? Selamat hari Selasa kawan-kawan ;)

Sabtu, September 24

Bangbarongan: Tradisi Khas Khitanan

Bismillah..
Huwalooooowwww.. Hello fellas :)
Beberapa hari tak berblog ria rasanya seperti ada yang kurang mantep. Sekarang belum bisa menulis yang agak berbobot. Ide masih mengendap di dalam otak. Belum bisa menguap bahkan menebar menjadi tulisan yang indah penuh makna. Semoga saja nanti bisa lebih menebar manfaat dalam tulisan. Ok, sekarang waktunya berbagi cerita yang ringan-ringan saja.

Hayo siapa kawan-kawan pria yang belum khitan? Acungkan tangannya! Ups, tapi saya sekarang bukan mau membahas tentang khitan mengkhitan. Para ahli khitan maupun pria lebih tau mengenai hal itu. Hehehe..

Biasanya klo anak-anak setelah di khitan pasti ada acara perayaan. Entah itu hanya syukuran kecil-kecilan maupun syukuran besar-besaran. Klo di sunda biasanya disebut hajatan khitanan. Di tempat saya tinggal sekarang, yaitu Cileunyi (pada tau ga? klo yang suka liat arus mudik pasti tau, hehe..) punya kebiasaan setelah atau sebelum perayaan hajatan khitanan selalu ada prosesi iring-iringan atau arak-arakan yang disebut Bangbarongan.

Hari Minggu ini kebetulan ada warga yang sedang merayakan hajatan khitanan dan melakukan prosesi Bangbarongan keliling sekitar rumah. Diiringi dengan musik Dogdog (suaranya mirip dengan alunan yang mengeluarkan bunyi "dogdogdogdog..."). Dan ada maskot yang disebut Cocoet yaitu semacam model bebegig (orang-orangan) sawah yang isinya orang didalam karung goni, bentuk dan rupanya menyerupai entahlah apa itu, dan mengeluarkan bunyi-bunyian "cocoeeeet..cocoeeeett". Hahaha.. Semua orang ramai-ramai ikut pawainya. Saya hanya melihat dari lantai 2 rumah ditemani dengan kamera yang sudah siap mengabadikan moment langka ini.

Cocoet, terbuat dari karung goni yang berisi orang, mulutnya suka gerak-gerak minta uang.
Jadi, Bangbarongan itu terdiri dari kompilasi antara kuda lumping, iringan musik Dogdog campur sundaan campur dangdut campur apalah itu, ada Cocoet dan tak lupa diarak oleh beberapa orang laki-laki yang kesurupan yang berjoget kesana kemari tanpa arah. Aksi kesurupan ini disengaja, entah tujuannya untuk apa. Karena alunan musik dogdog pun katanya seperti alunan musik yang membangkitkan aura kesurupan semakin menjadi-jadi. Bisa sampai makan beling, minum air comberan, guling-guling ga jelas di atas aspal, atau nyebur ke kolam ikan pinggir jalan dan kadang juga ngerusak kebun sama sawah orang. Ter-la-lu.. Was-waslah! Was-waslah! :D

Kuda Lumping
Iring-iringan Bangbarongan beserta beberapa orang kesurupan

Mungkin iring-iringan Bangbarongan ini sudah menjadi hiburan rakyat yang sebulan sekali pun belum tentu ada. Jika saat musim khitanan pasti ramai. Bisa sampai lebih dari satu kali Bangbarongan itu berkeliling melewati rumah. Dan itu pun dari grup Bangbarongan yang berbeda-beda. Ayo di tempat kawan-kawan ada gak yang seperti ini? Klo mau tau, mampir-mampir lah ke Cileunyi, nanti saya suguhi Bangbarongan :D

Ini cerita ku, apa cerita mu? :)

Kamis, September 8

Menelusuri Jalan Setapak - Edisi Pelabuhan Ratu

Bismillahirrahmanirrahiim..
Malam ini ditemani secangkir kopi mochacinno dan iringan Kecapi Suling membuat saya serasa di-nina bobo-kan. Terlelap dalam lamunan tapi tangan menari-nari di atas keyboard. Jadi teringat suasana alam di kampung halaman ayah, di Pelabuhan Ratu kemarin saat mudik season ke dua. Hehehehe..

Main-main di sungai, meskipun airnya sedang surut dan hampir kering karena musim sudah memasuki kemarau. Padalah ini September, akhiran -ber biasanya kan musim hujan, tapi karena perubahan kondisi cuaca dan alam jadi siklusnya berganti. Sungai dan sawah serta perkebunan karet masih mendominasi di sana. Tapi yang saya kurang betah di sana adalah udaranya yang panas, gerah. Mandi 2 kali itu tidak cukup. Sebentar saja langsung berkeringat.

mapay jalan satapak walungan edisi 1
mapay jalan satapak walungan edisi 2
Tiap kali liat foto ini jadi ingat sebuah petikan lagu:
"Mapay jalan satapak, ngajugjug ka hiji lembur. Henteu karasa capena, sabab aya nu diteang." (Mawar Bodas - Yayan Jatnika)

Pokoknya Yayan Jatnika Bieber daaaaahhh.. Hahahaha.. :r

Oh iya, waktu pulang habis main di sungai malah ketemu yang beginian. Penting tak penting saya jepret dan abadikan. Saya cuma merenung, ini bagaimana cara mandinya ya? Penutupnya mana? Toiletnya dimana? Terus gayungnya mana? Mungkin di kota-kota besar pun gubuk toilet umum seperti ini masih ada. Miris dan sangat kasihan, seharusnya MCK itu layak, bersih, higienis serta tidak terbuka auratnya.

WC UMUM dengan mandi, cuci, kakus gratis tapi begini :(
Fasilitas di sini memang masih banyak yang harus dibenahi. Mulai dari akses jalan ke desa-desa yang masih berbatu. Air, di sini masih memakai air gunung langsung, jadi pagi-pagi airnya dingin sedingin-dinginnya, siang airnya panas, sore airnya anget. Tak usah pakai godok menggodok air. Jadi lumayan hemat gas. Sinyal telepon yang kadang muncul kadang hilang, malah kadang-kadang bisa sepanjang hari tak dapat sinyal. Harus mojok dulu baru dapat sinyal. Dan tak lupa fasilitas MCK yang layak harus benar-benar dibenahi.

Inilah saatnya pemerintah harus benar-benar turun ke desa. Oh please jangan mendekam di kantor saja. Kelilinglah sekali-kali. Lihat apa yang rakyatnya lakukan setiap hari, bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Apa mereka sudah layak penghidupannya? Ini pun menjadi tugas untuk saya di masa depan sebagai calon sarjana Ilmu Pemerintahan. Mengelola masyarakat, melayaninya. Percayalah, masih ada yang berniat baik untuk membenahi negara ini. Tuh kan keluar lagi gaya-gaya jawab ngawur ala kampusnya.

Ini menurut ku, apa menurut mu? ;)

Minggu, September 4

(Hampir) Tidak Pulang Kampung - Edisi Ciamis

Macet di Limbangan
Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah masih bisa menulis di blog dan masih diberi kesempatan untuk merasakan indahnya dunia serta hidup yang Allah SWT berikan setiap harinya. Agak lama juga saya vakum dalam menulis lugas di blog. Kebanyakan berkutat di puisi. Entah kenapa, padahal "mungkin aku bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.. ini diriku apa adanya.." (Base Jam - Bukan Pujangga).

Bagaimana dengan suasana mudik kalian? Ramai? Macet? Menyenangkan? Atau malah tidak mudik sama sekali? Hehehe.. Yang penting sudah bersilaturahim dengan sanak saudara, meskipun tidak mempunyai kampung halaman yang jauh dari mata. Saya tiap tahun pasti mudik. Ada dua daerah yang rutin saya kunjungi bersama keluarga. Ciamis dan Sukabumi (Pelabuhan Ratu). Karena kedua darah dari daerah itu mengalir di dalam diri saya. Perpaduan blasteran sunda :D

Pada hari Kamis, 1 September rencananya kami sekeluarga akan melakukan perjalanan mudik malam setelah shalat isya, namun niat itu harus diurungkan karena ada tetangga kami yang memberikan informasi kalo jalur Nagrek sampai Gentong macet parah, sampai 12 km. Ya sudahlah kami benar-benar hampir tidak jadi mudik, dibatalkan. Bayangkan macet atau padat merayap sejauh 12 km itu akan memakan waktu sampai kapan? Daripada bermalam di kendaraan lebih baik kami bermalam di rumah lagi saja. Dan akhirnya keesokan pagi kami sudah memantapkan niat untuk berangkat mudik. Biarlah macet itu mendera, rindu kampung halaman sudah tak terbendung. Ahiw..

Kawan, kalian tahu Ciamis? Pernah dengar daerah Panjalu? Atau objek wisata Situ Lengkong? Orang Priangan Selatan mungkin tahu. Nah di sanalah saya dilahirkan. Tempat sanak saudara dari ibu ada di sana berkumpul. Entah kenapa setiap saya pulang ke Ciamis merasa sangat kerasan dan tidak ingin cepat-cepat pulang. Udaranya, orang-orangnya, sejarahnya, tempat wisatanya, dan semuanya membuat saya selalu rindu untuk kembali. Panjalu itu mempunyai sejarah panjang, di jaman dahulu kala di Priangan Selatan terkenal sebuah kerajaan dengan nama Panjalu. Silahkan baca sejarahnya di sini dan di sini. Di sini terdapat Situ Lengkong yang merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi para peziarah. Malah waktu itu (saya lupa tahun berapa), Gus Dur pernah berkunjung ke sini. Sampai-sampai orang sekampung, sedusun, sekecamatan, se-se-se-se ramai-ramai ke Situ Lengkong.

Karena rumah nenek sangat dekat dengan Situ Lengkong, jadi kalo mau maen ke sana tinggal jalan kaki sekitar 10 menit. Karena kami orang Panjalu jadi tinggal lewat begitu saja tanpa membayar tiket. Hahahaha.. Maaf ya Pak petugas. Selayaknya situ atau danau, di sini ramai perahu yang siap mengantarkan wisatawan sekedar mengelilingi pulau Nusa (yang berada di tengah-tengah situ) atau sekalian mengunjungi makam raja-raja Panjalu di dalam pulau Nusa tersebut. Ada yang menarik saya temukan di desain perahu dayungnya. Dulu yang mendayung perahu bisa 2 orang "nahkoda" dengan 2 dayung, berada di depan dan belakang perahu. Namun sekarang jaman sudah berubah boi, perahu tak usah didayung, cukup dikayuh seperti sepeda. Apaaaaaaa? Ya, dikayuh seperti sepeda. Macam roda-roda perahu bebek lah.
Galeri Situ Lengkong
Situ Lengkong dan Perahu Unik (coba cari keunikannya)
Situ Lengkong

Setelah puas berfoto ria dan sekedar melihat-lihat di Situ Lengkong. Saya dan serdadu kancil (adik dan sepupu) bermain ke alun-alun dan Mesjid Agung Panjalu. Dan di sini juga saya menemukan sesuatu yang menarik. Ada 2 buah seperti katel (wajan) terbujur kaku di depan halaman Mesjid Agung Panjalu. Saya kira itu semacam pot kembang jumbo atau tempat untuk menadah air. Ternyata waktu kami tak sengaja melihat-lihat ada sebuah tulisan terpahat ditepian katel itu. Bertuliskan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1494 52X20

dan katel yang satunya lagi berpahatkan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1330 52X20

Bocah-Bocah Bersama Katel Bersejarah (AvizZ, Upi)
Apa coba itu artinya? Hmmmm.. Apa maksudnya itu buatan Edwin Maw dari Liverpool yang dibuat pada tahun 1330 dan 1494 dengan ukuran diameter 52X20 cm???? Wooooowwwww.. Saya sempat berpikir sangat dalam dan merenung sejenak. Apa ini benda peninggalan sejarah? Kok tergeletak begitu saja (dipatenkan sih letaknya, tapi seperti tak terurus didalamnya banyak pasir dan batu-batu). Dan saya pun langsung mencari tahu di Mang Duleh Google tentang Edwin Maw, tapi saya tak menemukan informasi yang spesifik. Dipastikan sih itu nama orang Inggris. Dan memang seperti apa kata Ibu dan Bibi, bahwa katel itu sudah ada semenjak mereka kecil. Dan selalu dijadikan tempat bermain. Tapi sekarang sih sudah tidak di jadikan mainan. Cuma tak terurus saja, jadi gimana gitu. Waktu dicoba saya ketuk katelnya rasa besinya itu kuat banget, pantesan ga berkarat. Sangat-sangat kuat dan mejik. Saya senang bisa melihat benda bersejarah itu ada di kampung halaman.

Masih banyak benda-benda bersejarah di Panjalu, menarik dan membuat saya terus ingin mempelajari dan mengetahuinya. Ayo kawan-kawan mainlah ke Ciamis, Panjalu. Berperahu ria ke Situ Lengkong, berziarah ke makam raja Panjalu di Pulau Nusa. Pasti kalian tak akan menyesal. Mudik di Ciamis dituntaskan hari Sabtu sore, kami pun kembali ke Bandung, perjalanan ramai lancar tanpa macet lagi di Nagrek :D

Bersambung Mudik Bagian Pelabuhan Ratu...