Pages

Kamis, September 8

Menelusuri Jalan Setapak - Edisi Pelabuhan Ratu

Bismillahirrahmanirrahiim..
Malam ini ditemani secangkir kopi mochacinno dan iringan Kecapi Suling membuat saya serasa di-nina bobo-kan. Terlelap dalam lamunan tapi tangan menari-nari di atas keyboard. Jadi teringat suasana alam di kampung halaman ayah, di Pelabuhan Ratu kemarin saat mudik season ke dua. Hehehehe..

Main-main di sungai, meskipun airnya sedang surut dan hampir kering karena musim sudah memasuki kemarau. Padalah ini September, akhiran -ber biasanya kan musim hujan, tapi karena perubahan kondisi cuaca dan alam jadi siklusnya berganti. Sungai dan sawah serta perkebunan karet masih mendominasi di sana. Tapi yang saya kurang betah di sana adalah udaranya yang panas, gerah. Mandi 2 kali itu tidak cukup. Sebentar saja langsung berkeringat.

mapay jalan satapak walungan edisi 1
mapay jalan satapak walungan edisi 2
Tiap kali liat foto ini jadi ingat sebuah petikan lagu:
"Mapay jalan satapak, ngajugjug ka hiji lembur. Henteu karasa capena, sabab aya nu diteang." (Mawar Bodas - Yayan Jatnika)

Pokoknya Yayan Jatnika Bieber daaaaahhh.. Hahahaha.. :r

Oh iya, waktu pulang habis main di sungai malah ketemu yang beginian. Penting tak penting saya jepret dan abadikan. Saya cuma merenung, ini bagaimana cara mandinya ya? Penutupnya mana? Toiletnya dimana? Terus gayungnya mana? Mungkin di kota-kota besar pun gubuk toilet umum seperti ini masih ada. Miris dan sangat kasihan, seharusnya MCK itu layak, bersih, higienis serta tidak terbuka auratnya.

WC UMUM dengan mandi, cuci, kakus gratis tapi begini :(
Fasilitas di sini memang masih banyak yang harus dibenahi. Mulai dari akses jalan ke desa-desa yang masih berbatu. Air, di sini masih memakai air gunung langsung, jadi pagi-pagi airnya dingin sedingin-dinginnya, siang airnya panas, sore airnya anget. Tak usah pakai godok menggodok air. Jadi lumayan hemat gas. Sinyal telepon yang kadang muncul kadang hilang, malah kadang-kadang bisa sepanjang hari tak dapat sinyal. Harus mojok dulu baru dapat sinyal. Dan tak lupa fasilitas MCK yang layak harus benar-benar dibenahi.

Inilah saatnya pemerintah harus benar-benar turun ke desa. Oh please jangan mendekam di kantor saja. Kelilinglah sekali-kali. Lihat apa yang rakyatnya lakukan setiap hari, bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Apa mereka sudah layak penghidupannya? Ini pun menjadi tugas untuk saya di masa depan sebagai calon sarjana Ilmu Pemerintahan. Mengelola masyarakat, melayaninya. Percayalah, masih ada yang berniat baik untuk membenahi negara ini. Tuh kan keluar lagi gaya-gaya jawab ngawur ala kampusnya.

Ini menurut ku, apa menurut mu? ;)

0 komentar: