Pages

Minggu, September 4

(Hampir) Tidak Pulang Kampung - Edisi Ciamis

Macet di Limbangan
Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah masih bisa menulis di blog dan masih diberi kesempatan untuk merasakan indahnya dunia serta hidup yang Allah SWT berikan setiap harinya. Agak lama juga saya vakum dalam menulis lugas di blog. Kebanyakan berkutat di puisi. Entah kenapa, padahal "mungkin aku bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.. ini diriku apa adanya.." (Base Jam - Bukan Pujangga).

Bagaimana dengan suasana mudik kalian? Ramai? Macet? Menyenangkan? Atau malah tidak mudik sama sekali? Hehehe.. Yang penting sudah bersilaturahim dengan sanak saudara, meskipun tidak mempunyai kampung halaman yang jauh dari mata. Saya tiap tahun pasti mudik. Ada dua daerah yang rutin saya kunjungi bersama keluarga. Ciamis dan Sukabumi (Pelabuhan Ratu). Karena kedua darah dari daerah itu mengalir di dalam diri saya. Perpaduan blasteran sunda :D

Pada hari Kamis, 1 September rencananya kami sekeluarga akan melakukan perjalanan mudik malam setelah shalat isya, namun niat itu harus diurungkan karena ada tetangga kami yang memberikan informasi kalo jalur Nagrek sampai Gentong macet parah, sampai 12 km. Ya sudahlah kami benar-benar hampir tidak jadi mudik, dibatalkan. Bayangkan macet atau padat merayap sejauh 12 km itu akan memakan waktu sampai kapan? Daripada bermalam di kendaraan lebih baik kami bermalam di rumah lagi saja. Dan akhirnya keesokan pagi kami sudah memantapkan niat untuk berangkat mudik. Biarlah macet itu mendera, rindu kampung halaman sudah tak terbendung. Ahiw..

Kawan, kalian tahu Ciamis? Pernah dengar daerah Panjalu? Atau objek wisata Situ Lengkong? Orang Priangan Selatan mungkin tahu. Nah di sanalah saya dilahirkan. Tempat sanak saudara dari ibu ada di sana berkumpul. Entah kenapa setiap saya pulang ke Ciamis merasa sangat kerasan dan tidak ingin cepat-cepat pulang. Udaranya, orang-orangnya, sejarahnya, tempat wisatanya, dan semuanya membuat saya selalu rindu untuk kembali. Panjalu itu mempunyai sejarah panjang, di jaman dahulu kala di Priangan Selatan terkenal sebuah kerajaan dengan nama Panjalu. Silahkan baca sejarahnya di sini dan di sini. Di sini terdapat Situ Lengkong yang merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi para peziarah. Malah waktu itu (saya lupa tahun berapa), Gus Dur pernah berkunjung ke sini. Sampai-sampai orang sekampung, sedusun, sekecamatan, se-se-se-se ramai-ramai ke Situ Lengkong.

Karena rumah nenek sangat dekat dengan Situ Lengkong, jadi kalo mau maen ke sana tinggal jalan kaki sekitar 10 menit. Karena kami orang Panjalu jadi tinggal lewat begitu saja tanpa membayar tiket. Hahahaha.. Maaf ya Pak petugas. Selayaknya situ atau danau, di sini ramai perahu yang siap mengantarkan wisatawan sekedar mengelilingi pulau Nusa (yang berada di tengah-tengah situ) atau sekalian mengunjungi makam raja-raja Panjalu di dalam pulau Nusa tersebut. Ada yang menarik saya temukan di desain perahu dayungnya. Dulu yang mendayung perahu bisa 2 orang "nahkoda" dengan 2 dayung, berada di depan dan belakang perahu. Namun sekarang jaman sudah berubah boi, perahu tak usah didayung, cukup dikayuh seperti sepeda. Apaaaaaaa? Ya, dikayuh seperti sepeda. Macam roda-roda perahu bebek lah.
Galeri Situ Lengkong
Situ Lengkong dan Perahu Unik (coba cari keunikannya)
Situ Lengkong

Setelah puas berfoto ria dan sekedar melihat-lihat di Situ Lengkong. Saya dan serdadu kancil (adik dan sepupu) bermain ke alun-alun dan Mesjid Agung Panjalu. Dan di sini juga saya menemukan sesuatu yang menarik. Ada 2 buah seperti katel (wajan) terbujur kaku di depan halaman Mesjid Agung Panjalu. Saya kira itu semacam pot kembang jumbo atau tempat untuk menadah air. Ternyata waktu kami tak sengaja melihat-lihat ada sebuah tulisan terpahat ditepian katel itu. Bertuliskan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1494 52X20

dan katel yang satunya lagi berpahatkan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1330 52X20

Bocah-Bocah Bersama Katel Bersejarah (AvizZ, Upi)
Apa coba itu artinya? Hmmmm.. Apa maksudnya itu buatan Edwin Maw dari Liverpool yang dibuat pada tahun 1330 dan 1494 dengan ukuran diameter 52X20 cm???? Wooooowwwww.. Saya sempat berpikir sangat dalam dan merenung sejenak. Apa ini benda peninggalan sejarah? Kok tergeletak begitu saja (dipatenkan sih letaknya, tapi seperti tak terurus didalamnya banyak pasir dan batu-batu). Dan saya pun langsung mencari tahu di Mang Duleh Google tentang Edwin Maw, tapi saya tak menemukan informasi yang spesifik. Dipastikan sih itu nama orang Inggris. Dan memang seperti apa kata Ibu dan Bibi, bahwa katel itu sudah ada semenjak mereka kecil. Dan selalu dijadikan tempat bermain. Tapi sekarang sih sudah tidak di jadikan mainan. Cuma tak terurus saja, jadi gimana gitu. Waktu dicoba saya ketuk katelnya rasa besinya itu kuat banget, pantesan ga berkarat. Sangat-sangat kuat dan mejik. Saya senang bisa melihat benda bersejarah itu ada di kampung halaman.

Masih banyak benda-benda bersejarah di Panjalu, menarik dan membuat saya terus ingin mempelajari dan mengetahuinya. Ayo kawan-kawan mainlah ke Ciamis, Panjalu. Berperahu ria ke Situ Lengkong, berziarah ke makam raja Panjalu di Pulau Nusa. Pasti kalian tak akan menyesal. Mudik di Ciamis dituntaskan hari Sabtu sore, kami pun kembali ke Bandung, perjalanan ramai lancar tanpa macet lagi di Nagrek :D

Bersambung Mudik Bagian Pelabuhan Ratu...

0 komentar: