Pages

Jumat, April 1

FILSAFAT BAHASA

Apa makna sesungguhnya dari makna? Apa makna sesungguhnya dari apa? Begitu banyak bahasa yang sesungguhnya kita gunakan sehari-hari merupakan sebuah konsep yang sepenuhnya merupakan konsep yang praktis. Banyaknya bahasa yang dipergunakan oleh manusia sesungguhnya merupakan ungkapan simbolik yang dipergunakan untuk alasan praktis dalam hal berkomunikasi. Pada akhirnya bahasa hanyalah merupakan alat yang dipergunakan manusia untuk memahami, menjembatani, dan mengkomunikasikan hal-hal dari dalam pengalaman kemanusiaan manusia itu sendiri.
Sehingga amat disesalkan jika dalam perjalanan perenungan manusia mengenai dunia yang di dalamnya dirinya sendiri masuk, ternyata yang dicari dan dipikirkan hanyalah mengenai bahasa. Filsafat positivisme logis yang cenderung hanya merupakan sebuah metode dalam menilai suatu pernyataan bermakna atau tidak menjadikan filsafat ini mandul dalam dirinya sendiri. Demikian pula filsafat analisis linguistik. Yang dibahas oleh kedua filsafat ini hanyalah sebuah kebenaran dalam kalimat bukan kebenaran di dalam realitas itu sendiri. Lama-kelamaan kedua filsafat ini hanyalah merupakan sebuah disiplin ilmu yang tidak ada kaitannya dengan filsafat. Positivisme logis akan menjadi sebuah metode pencarian pernyataan sedang analisis linguistik hanya akan menjadi cabang dari ilmu bahasa.
Namun demikian sesungguhnya memang segala hal yang ingin mendekati realitas pada akhirnya tidak akan merupakan ilmu yang dapat dikomunikasikan secara lengkap hanya melalui bahasa. Bahasa memang merupakan salah satu penerjemahan yang dapat kita pahami mengenai realitas, akan tetapi realitas sesungguhnya merupakan hal yang tidak akan pernah dapat kita ketahui sepenuhnya. Penjelasan ini merupakan pelengkap dari analisis mengenai indera kita dalam menangkap realitas, seperti yang pernah dijelaskan oleh Kant ataupun Schopenhauer.
Dengan demikian apa yang telah dirintis oleh Kant maupun Schopenhauer merupakah hal yang telah benar jalur yang harus kita tempuh. Filsafat merupakan sesuatu yang setidaknya membuka pemahaman kita akan dunia. Dengan berfilsafat memang sesungguhnya kita tidak akan menemukan jawaban final, hal ini dikarenakan berfilsafat merupakan aktivitas dari dalam pemikiran kita sendiri. Jawaban yang terbentuk dan terlontarkan bahkan akan terus menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan baru. Berfilsafat bukanlah beragama. Jikalau sebuah pemikiran filsafat dijadikan agama maka pada dasarnya filsafat telah berhenti menjadi filsafat. Ia menjadi monster yang mengerikan yang dinamai ideologi.
Dari Catatan Lampauku
Tertanggal 13 April 2006
Haqiqie Suluh
Be the first to like this post.

11 Tanggapan ke “Tentang Bahasa dan Filsafat: Sebuah Renungan”


“Namun demikian sesungguhnya memang segala hal yang ingin mendekati realitas pada akhirnya tidak akan merupakan ilmu yang dapat dikomunikasikan secara lengkap hanya melalui bahasa. Bahasa memang merupakan salah satu penerjemahan yang dapat kita pahami mengenai realitas, akan tetapi realitas sesungguhnya merupakan hal yang tidak akan pernah dapat kita ketahui sepenuhnya.” –> suka banget sama kalimat ini.
Ia menjadi monster yang mengerikan yang dinamai ideologi. –> menilai ideologi sebagai ‘monster’ menurut saya agak berlebihan(kalau tidak mau dibilang men-generalisai). toh ada ideologi yang ‘baik’(lebih banyak positifnya dibanding negatifnya, atau cocok diterapkan di masyarakat tertentu), dan ada juga yang ‘buruk’(menindas suatu kaum, rasis, sulit diterapkan, dsb.)
saya jadi teringat puisi Subagio Sastrowardojo yang ini:
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
Bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa
lagi-lagi kita menemui kebuntuan dalam mencari ‘kebenaran’. seolah-olah kebenaran bukanlah milik manusia, atau kebenaran itu sendiri sebenarnya tidak ada.
jadi, saya sih lebih suka yang praktis-praktis saja seperti beriman.

0 komentar: