.....ku telanjangidiriku dari semua yang melekat, ku tanggalkan semuanya sehinngga nampak hewanidan insani bergumul bersama alami, dengan arah tujuan melebur dalamke-ilahi-an.....
*****
Perjalanan ini telah ditempa olehproblematikanya, disepuh dengan pengalaman dan dilukis dengan goresanintrik-konflik. Selalu terjadi peperangan mulai dari geriliya sampai perangdingin, diplomasi perdamaian sangat sering dilakukan namun kalah olehkeidealitasan, realita diporak-porandakan oleh bom-bom dan rudal-rudal idealita.
Dengan kekalahan tersebutmenimbulkan kebencian mendalam pada realita terhadap idealita. Muncul niatanrealita untuk melaksanakan aksi balas dendamnya seperti apa yang telahdilakukan oleh idealita bahkan melebihi dahsyatnya serangan idealita. Aksipundijalankan realita dengan kemenangan ditangannya.
Balas dendam sudah menjadirutinitas masing-masing idealita dan realita, sehingga sangat utopis adanyaperdamaian di keduanya. Selama berabad-abad sampai mienium-milenium takterhitung telah berlalu, pada akhirnya mereka berdua sadar dan menyadari bahwasejatinya dalam diri mereka mempunyai sesuatu yang tak dapat kata-katamengungkapkannya, mendeskripsikan bahkan mendefinisikannya. Entah apa namanyasesuatu itu, sesuatu itu tak butuh kata, tak butuh nama, tak butuh simbol, yangterpenting mereka berdua telah merasakan sesuatu itu, meresapinya, menyadarinyadan menghayatinya.
Mereka telah lupa dengan dirimasing-masing, idealita lupa keidealitasan dirinya, begitu juga realita telahlupa akan kerealitasan dirinya. Kebencian-kebencian dan prasangka-prasangkasinis telah musnah, idealita melihat bahwa dalam diri realita ada dirinya,begitu juga realita. Keduanya tidak bisa di pisahkan sehingga keduanya menjadisatu pribadi yang utuh, yang unik. Mereka berdua sangat berterima kasih kepadasesuatu yang ada dalam dirinya, sesuatu itu menjadi penuntun, pedoman danpenyatu dan penyadar dalam diri pribadi keduanya.
Bengkel Peradaban,
Selasa, 27 September 2011
Mafish de Philein
0 komentar:
Posting Komentar